Bulan Bahasa (dan Sastra)
Apa yang menyebabkan bulan Oktober ditetapkan sebagai bulan bahasa? Pasti Anda juga bisa menjawabnya. Ya, bulan Oktober ditetapkan sebagai bulan bahasa karena pada 28 Oktober 1928 para pendahulu bangsa kita mencetuskan Sumpah Pemuda dengan bahasa, bahasa Indonesia, sebagai butir ketiganya. Belakangan, bulan Oktober tidak disebut sebagai bulan bahasa saja, tapi bulan bahasa dan sastra. Ini seharusnya dilakukan sejak lama. Sebab meskipun bahan dasar sastra merupakan bahasa, kompleksitasnya kadang melampaui bahasa.
Bahasa dan Sastra
Kebanyakan orang memang suka keliru menyangkut dua hal ini. Kalau sudah berstatus mahasiswa, maupun lulusan, dari Departemen Sastra Indonesia, dianggap sudah mengetahui masalah kesusastraan. Kadang-kadang juga dianggap sebagai kamus berjalan sehingga kalau berhadapan dengan kosakata tertentu, para mahasiswa dan lulusan Sastra Indonesia ini dijadikan tempat bertanya. Parahnya, tidak jarang mereka yang bertanya itu akan melecehkan (entah itu serius maupun sekadar guyon) dengan berkata, “Percuma mahasiswa/lulusan Sastra Indonesia, masa begitu saja nggak tahu.”
Sebenarnya, pada Departemen Sastra Indonesia (dulu disebut Jurusan Sastra Indonesia, setidaknya sampai sebelum saya menulis skripsi) ada dua pembidangan. Bidang pertama itu bidang bahasa atau yang lazim disebut linguistik. Lalu bidang kedua ialah sastra.
Baik mahasiswa sastra, maupun linguistik akan diwajibkan mengikuti kuliah-kuliah dasar bidang masing-masing. Mahasiswa sastra akan belajar Pengantar Linguistik Umum, Fonologi. Morfologi, Sintaksis, Semantik, Pragmatik, dan kuliah-kuliah linguistik lainnya. Lalu mahasiswa bidang linguistik juga harus belajar Pengantar Kajian Sastra, Telaah Puisi, Telaah Prosa, Telaah Drama, Kritik Sastra, dan beberapa kuliah sastra lain. Tujuannya agar masing-masing mahasiswa, meskipun berfokus pada salah satu bidang, tetap memiliki bekal dasar untuk mencermati fenomena sastra maupun linguistik.
Namun, terkadang mahasiswa/lulusan bidang sastra harus memiliki kompleksitas wawasan ilmu di bidang linguistik pula. Tujuannya, bila ia ingin melakukan kritik sastra, bekal ilmu linguistik sering kali menolong dalam memahami pesan yang disampaikan dalam suatu karya sastra. Atau bila ia memang ingin membuat karya sastra tertentu, pemahaman bidang linguistik yang baik akan menolongnya menciptakan karya yang kuat karena mengenal karakter fonem tertentu, misalnya.
Menurut saya :
1.Bulan bahasa adalah bulan dimana kita dapat mengadakan
lomba2 yang bernuansakan bahasa.
2.Bulan bahasa dapat dijadikan sebagai bulan dimana kita dapat menunjukkan kepintaran dan kehebatan kita masing2 dalam lomba2 yang diselenggarakan di sekolah
3.Bulan bahasa merupakan bulan dimana kita harus memperingati hari sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober.
2.Bulan bahasa dapat dijadikan sebagai bulan dimana kita dapat menunjukkan kepintaran dan kehebatan kita masing2 dalam lomba2 yang diselenggarakan di sekolah
3.Bulan bahasa merupakan bulan dimana kita harus memperingati hari sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober.
Nah, disekolah saya yaitu SMA N 1 BELITANG memperingati hari
bulan bahasa dengan berbagai lomba yaitu :
- lomba raking 1
- lomba cipta baca puisi
- lomba mc
- lomba pidato meniru tokoh
- lomba lawak
- lomba tutur cerita rakyat
Kelas kami ikut berpartisipasi dalam semua acara tapi
sayangnya yang masuk grand final dan final hanya lomba raking 1, cipta baca
puisi dan lawak.
Saya pun juga ikut berpartisipasi dalam lomba lawak walaupun
malu hehe.
Sekilas saya akan memberikan foto dan keterangan tentang
lomba lawak kelas kami.
1. Waktu latihan 2. Waktu babak penyelisihan
3. waktu grand final lawak
Kelas XI ipa 4
Kelas XI ipa 2
Kelas XII ipa 3
Kelas ipa 5
Kelas XII ips 2
salam generasi muda :D
dan inspirasi saya










